Bobrokisasi muda-mudi
(Kajian Mahasiswa)
Oleh Dema Satria AP
Rakyat UIN Raden Intan
Akan banyak persepsi yang hadir ketika mulai membaca judul tulisan
di atas. Keingintahuan dan koreksi
adalah efek samping yang akan timbul ketika melihat sesuatu yang baru. Judul
opini yang terpampang diatas mungkin mengundang mata para akademisi, tapi
kesampingkanlah itu karena kalimat yang kami maksud adalah “rusaknya moral
pemuda dan pemudi negeri saat ini”.
Ciri bagi sebuah ras dan keturunan adalah kesamaan bentuk fisik
yang ada pada masyarakatnya. Ciri bagi sebuah kemajuan adalah tekhnologi yang
membantu mempermudah urusan manusia. Ciri bagi sebuah peradaban adalah moral
yang berlaku dan dianggap biasa di dalam sekumpulan manusia. ciri kemajuan dan
peradaban sebuah negeri adalah pemuda-pemudinya, dan sample pemuda-pemudi
negeri ini adalah mahasiswa-mahasiswi karena merekalah yang paling terpelajar.
Dinegeri ini kesamaan warna kulit, bentuk tubuh dan hidung adalah hal lumrah karena diturunkan memang
sesempurna itu dan tak usah kita fikirkan.
Tekhnologi yang berkembang di negeri tercinta ini barulah menjadi
perbincanagan yang menarik namun, ada satu hal yang lebih menarik untuk dibahas
yaitu moralitas anak bangsa yang tidak sesuai dengan tujuan ia di ciptakan
dalam ras ini dan negeri timur ini.
Perempuan berdua dengan laki-laki keluar rumah tanpa ada mahram
yang menemani bahkan sampai tengah malam itu lumrah saat ini. Perempuan umur 17
tahun keluar rumah dengan menggunakan celana dan baju adiknya lumrah saat
ini. Anak gadis dinasehati ibundanya
lalu membangkang dan marah marah itu lumrah. Laki-laki keluar rumah bersama
teman-temanya hanya untuk gitaran, mabuk, jerit sana jerit sini, rokok disaku
kanan rokok di saku kiri, gadis muda dalam pelukan di pinggir jalan menjadi
lumrah pula saat ini. Apakah mahasiswa sama seperti ini? Jika sama maka harapan
bangkitnya sebuah peradaban telah “bobrok”.
Kita mahasiswa di takdirkan berpola fikir lebih maju, di lahirkan
dalam Islam di tanah orang timur hidup
di alam yang subur, kita dimanjakan oleh tuhan. Lalu ketika hal tercela di atas
masih kita lakukan sebagai mahasiswa maka moral kita telah “bobrok” kita sudah
jauh dari Islam dan cara orang timur itu sendiri. Lalu siapakah saat ini yang
kita jadikan panutan? Orang eropa, amerika? Mereka muslim? Mereka orang timur?.
Kau beralasan karena tekhnologi mereka maju dan fisik indah mereka, sudah itu
saja.
Pelajarilah tekhnologinya tetapi tidak kelakuan tercelanya. Jangan
belajar jauh dulu kalau moral saja belum kau pelajari. Bagaimana mungkin kau
beli sepeda sementara kau belum punya rumah, dahulukan kebutuhan primer lalu
menyusul kebutuhan yang lain. Wahai mahasiswa bukan kah indah jika malam tiba
engkau mengaji, belajar dan tidur tanpa “keluyuran”. Wahai mahasiswa bukan kah
indah ketika engkau bergaul dengan lawan jenis seperlunya hanya sebatas belajar
saja dan jadikan lah ini cara paling romantis menjaga “dia”. Wahai mahasiswa
bukan kah indah ketika engkau berdiskusi tentang cara mengembalikan kemajuan
moral anak bangsa tanpa harus berdiskusi untuk menjatuhkan kelompok lain. Wahai
mahasiswa bukan kah akan sangat indah ketika engkau menjadi wisudawan
wisudawati dengan spesialisasi masing-masing ditambah ilmu agama yang tinggi.
Tapi apalah daya semua sudah biasa. Jika hari ini tidak engkau ubah
pola berfikirmu maka dizaman anakmu esok akan lebih “bobrok” kisah mentalnya,
namun ketika hari ini telah engkau azamkan dihatimu bahwa kau akan berubah maka
saat ini kamu seribu kali telah melangkah lebih cepat kepada kemajuan peradaban. Dan setelah niat baik itu,
maka berkumpulah kamu dengan orang-orang yang sholeh yang punya kemauan menjadi
lebih baik. Mari kita eratkan persaudaraan kita untuk kemajuan peradaban
Indonesia.
