demasatria.blogspot.co.id

Minggu, 27 November 2016

CANTIK INDONESIA KU LUAS PULA LUKANYA



“Semua terlihat sangat cantik ketika laut yang biru dan pulau-pulau yang hijau terhampar di bawah langit yang luas, dihiasi awan-awan lalu diterangi matahari”
                kalimat itu mengingatkan ku negeri Indonesia yang persis seperti yang disampaikan kalimat diatas.  Karena negeri mana lagi yang dapat ditandingkan? Negeri mana lagi yang keindahanya dapat menjadi kebanggaan melebihi kebanggaan kepada Indonesia?. Negeri yang tersohor paru-paru dunia, subur makmur alamnya, negeri yang identik dengan kalimat “ gemah ripah loh jinawi “, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Jika seandainya surga dunia itu ada maka itulah Indonesia.
                Indonesia adalah negeri yang mengalir deras darinya sungai-sungai, biru lautnya, tinggi air terjunya, stabil hujanya, menjulang gunung-gunungnya, sejuk udaranya, aman wilayahnya, bermacam tanahnya, bermacam satwanya, bermacam hayatinya, bermacam pula kulit orang-orangnya, begitu juga sukunya, bahkan Agamanya.
                Indonesia adalah negeri yang berdiri padanya kerjaan-kerajaan besar, majapahit, singosari, dan sriwijaya miliknya. Kemudian Indonesia disatukan oleh tangan alim ulama, diubah pola hidupnya, diubah sistemnya, menjadi lebih beradab karenanya. Sungguh indah pada masanya dan karenanya Indonesia disebut “negerinya para ulama”. Karena surga yang terpercik untuk Indonesia, lalu tergoreslah tinta kelam yang ditorehkan oleh masa kolonial, masa dimana “pribumi dipaksa tunduk menjadi budak di negeri sendiri oleh hukum yang dibuat manusia-manusia biadab”.
                Hidup dalam kebodohan, tunduk, menyembah, dan meminta hanya untuk sesuap nasi dari mereka yang sok berhati mulia yang merampas tenaga rakyat Indonesia dinegeri Indonesia tanpa imbal jasa. Sejarah kemudian menorehkan peristiwa “kerja paksa”, aniaya menjadi biasa, penghianatan dilakukan hanya untuk mencicipi bahagia walau sebentar saja. Kelam sudah nasib bangsa ku, lama sudah ia berlalu, menjadikan bangsa ini terbiasa dengan itu.
                350 tahun berlalu bukan tanpa pembelaan dan perlawanan, bukan karena tidak berusaha bangsa ini tidak merdeka, tetapi karena memang belum waktunya.  Ditengah sulitnya hidup pada masa itu, muncul orang-orang hebat yang lahir dari rahim bangsa Indonesia, lagi-lagi ulama.  Pendobrak perubahan ini lah yang selalu memberikan pencerahan bagi bangsa yang sedang terpuruk ini, mereka ibarat “cahaya mentari penghantar siang datang dan menghantar lagi pulang”. Entah ilmu apa yang mereka kuasai, bukankah pada waktu itu pribumi sulit sekolah?, tidak ada ilmu yang mereka dapat selain yang mereka pelajari dari Al-qur’an dan alam sekitar sebagai gurunya, lalu didorong oleh keresahan dan keinginan untuk merdeka. Mereka selalu berpegang pada cahaya, bertemankan cahaya, cahaya itu selalu menjadi tempat bertanya, Karena itulah ulama selalu menjadi cahaya dimanapun berada. 
                Sadarlah bangsa ini untuk merebut kemerdekaan, semua berjihad dan lagi-lagi ulama sebagai pemimpinya. Tidak pernah dalam sejarah kita menunggu perlengkapan siap atau seimbang dengan lawan. Keyakinanlah yang menyiapkanya di dalam hati, semangat untuk merdeka membakarnya, dan Takbir mengobarkan. H.O.S Tjokroaminoto mengatakan “semurni-murni Tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepintar-pintar siasat” maka jelaslah siasat lah yang paling penting dalam jihad serta tauhid senantiasa menjadi acuan. Dengan penuh liku semua berlalu hingga 17-08-1945 kemerdekaan diproklamasikan.
                Indonesia merdeka bebas menentukan kemana arah dan tujuan, hingga tercipta piagam jakarta yang kemudian sila ke-1 nya diubah menjadi sila ke-1 pancasila. Dan pancasila sebagai dasar hukum nageri ini. Hukum-hukum diciptakan, UUD menjadi acuan, lalu Demokrasi dipakai di Indonesia. Berpuluh tahun Indonesia dengan hukum-hukumnya yang entah kenapa bahasa hukumnya menggunakan bahasa penjajah. Semua yang bertentangan dengan demokrasi dianggap salah, padahal pada sila ke-4 pancasila dikatakan “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Dalam sila ini sudah seharusnya penentuan pemimpin adalah kesepakatan para wakil rakyat yang tidak mungkin ceroboh atau mudah diiming-imingi dengan “harta, tahta, dan wanita”.
Tidak lain tidak bukan para wakil rakyat itu adalah orang Islam yang kaffah Islamnya dan lagi-lagi merekalah ulama. Ulama lah yang seharusnya memilih pemimpin negeri ini mengingat ilmu dan jasa mereka untuk negeri tercinta ini. Tetapi hingga saat ini pemimpin di pilih oleh rakyat, yang mayoritas masih belum berilmu. semua bentuk kecerobohan, kecurangan, dan segala macam masalah dapat timbul dari hal ini. Sehingga pemimpin yang dihasilkan kurang kompeten dalam memimpin.
Hingga saat ini muncul masalah orang-orang Islam menghalalkan orang kafir sebagai pimpinan mereka, ini dapat terjadi karena ketidak tahuan kita tentang pemilihan pemimpin yang pantas. Padahal dalam qur’an sudah dijelaskan tentang pemimpin..... saat ini muslim dianggap sepele, bahkan kafir laknatullah itu dengan lantang mengatakan Al-Maidah : 51 berbohong. Kafir ini seharusnya dihukum mati tapi penegak hukum dinegeri ini juga kurang paham tentang hukum Islam. Maka hari ini tampilah ulama sebagai pendobrak, penyadar masyarakat untuk tegas dalam aqidah dan syariat. Saat ini adalah sudah waktunya Islam kembali bangkit meminpin dunia menjadi hukum dan sistem yang harus dipatuhi. Hukum Islam adalah tuntunan dari Allah maka Islam lah yang paling benar dan paling manusiawi hukumnya, tidak pantas hukum yang dibuat manusia lebih dijunjung dibanding hukum Allah. Jika Islam tidak bisa tegak dengan cara yang lembut maka jihad fisabilillah jalannya biar Allah sebagai pelindung.
Aku hanya ingin sampaikan ini wahai mujahid QS. AL_MAIDAH : 44 (Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.)
“Keadilan di negeri gemah ripah loh jinawi sudah berpulang, maka negerinya para ulama harus tetap berjaya”