“Semua
terlihat sangat cantik ketika laut yang biru dan pulau-pulau yang hijau terhampar
di bawah langit yang luas, dihiasi awan-awan lalu diterangi matahari”
kalimat itu mengingatkan ku negeri Indonesia yang
persis seperti yang disampaikan kalimat diatas.
Karena negeri mana lagi yang dapat ditandingkan? Negeri mana lagi yang
keindahanya dapat menjadi kebanggaan melebihi kebanggaan kepada Indonesia?.
Negeri yang tersohor paru-paru dunia, subur makmur alamnya, negeri yang identik
dengan kalimat “ gemah ripah loh jinawi “, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.
Jika seandainya surga dunia itu ada maka itulah Indonesia.
Indonesia adalah negeri yang mengalir deras darinya
sungai-sungai, biru lautnya, tinggi air terjunya, stabil hujanya, menjulang
gunung-gunungnya, sejuk udaranya, aman wilayahnya, bermacam tanahnya, bermacam
satwanya, bermacam hayatinya, bermacam pula kulit orang-orangnya, begitu juga
sukunya, bahkan Agamanya.
Indonesia adalah negeri yang berdiri padanya
kerjaan-kerajaan besar, majapahit, singosari, dan sriwijaya miliknya. Kemudian
Indonesia disatukan oleh tangan alim ulama, diubah pola hidupnya, diubah
sistemnya, menjadi lebih beradab karenanya. Sungguh indah pada masanya dan
karenanya Indonesia disebut “negerinya para ulama”. Karena surga yang terpercik
untuk Indonesia, lalu tergoreslah tinta kelam yang ditorehkan oleh masa
kolonial, masa dimana “pribumi dipaksa tunduk menjadi budak di negeri sendiri
oleh hukum yang dibuat manusia-manusia biadab”.
Hidup dalam kebodohan, tunduk, menyembah, dan meminta
hanya untuk sesuap nasi dari mereka yang sok berhati mulia yang merampas tenaga
rakyat Indonesia dinegeri Indonesia tanpa imbal jasa. Sejarah kemudian
menorehkan peristiwa “kerja paksa”, aniaya menjadi biasa, penghianatan
dilakukan hanya untuk mencicipi bahagia walau sebentar saja. Kelam sudah nasib
bangsa ku, lama sudah ia berlalu, menjadikan bangsa ini terbiasa dengan itu.
350 tahun berlalu bukan tanpa pembelaan dan
perlawanan, bukan karena tidak berusaha bangsa ini tidak merdeka, tetapi karena
memang belum waktunya. Ditengah sulitnya
hidup pada masa itu, muncul orang-orang hebat yang lahir dari rahim bangsa
Indonesia, lagi-lagi ulama. Pendobrak
perubahan ini lah yang selalu memberikan pencerahan bagi bangsa yang sedang
terpuruk ini, mereka ibarat “cahaya mentari penghantar siang datang dan
menghantar lagi pulang”. Entah ilmu apa yang mereka kuasai, bukankah pada waktu
itu pribumi sulit sekolah?, tidak ada ilmu yang mereka dapat selain yang mereka
pelajari dari Al-qur’an dan alam sekitar sebagai gurunya, lalu didorong oleh
keresahan dan keinginan untuk merdeka. Mereka selalu berpegang pada cahaya,
bertemankan cahaya, cahaya itu selalu menjadi tempat bertanya, Karena itulah
ulama selalu menjadi cahaya dimanapun berada.
Sadarlah bangsa ini untuk merebut kemerdekaan, semua
berjihad dan lagi-lagi ulama sebagai pemimpinya. Tidak pernah dalam sejarah
kita menunggu perlengkapan siap atau seimbang dengan lawan. Keyakinanlah yang
menyiapkanya di dalam hati, semangat untuk merdeka membakarnya, dan Takbir
mengobarkan. H.O.S Tjokroaminoto mengatakan “semurni-murni Tauhid,
setinggi-tinggi ilmu, dan sepintar-pintar siasat” maka jelaslah siasat lah yang
paling penting dalam jihad serta tauhid senantiasa menjadi acuan. Dengan penuh
liku semua berlalu hingga 17-08-1945 kemerdekaan diproklamasikan.
Indonesia merdeka bebas menentukan kemana arah dan
tujuan, hingga tercipta piagam jakarta yang kemudian sila ke-1 nya diubah
menjadi sila ke-1 pancasila. Dan pancasila sebagai dasar hukum nageri ini.
Hukum-hukum diciptakan, UUD menjadi acuan, lalu Demokrasi dipakai di Indonesia.
Berpuluh tahun Indonesia dengan hukum-hukumnya yang entah kenapa bahasa
hukumnya menggunakan bahasa penjajah. Semua yang bertentangan dengan demokrasi
dianggap salah, padahal pada sila ke-4 pancasila dikatakan “kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Dalam
sila ini sudah seharusnya penentuan pemimpin adalah kesepakatan para wakil
rakyat yang tidak mungkin ceroboh atau mudah diiming-imingi dengan “harta,
tahta, dan wanita”.
Tidak lain tidak bukan para
wakil rakyat itu adalah orang Islam yang kaffah Islamnya dan lagi-lagi
merekalah ulama. Ulama lah yang seharusnya memilih pemimpin negeri ini
mengingat ilmu dan jasa mereka untuk negeri tercinta ini. Tetapi hingga saat
ini pemimpin di pilih oleh rakyat, yang mayoritas masih belum berilmu. semua
bentuk kecerobohan, kecurangan, dan segala macam masalah dapat timbul dari hal
ini. Sehingga pemimpin yang dihasilkan kurang kompeten dalam memimpin.
Hingga saat ini muncul
masalah orang-orang Islam menghalalkan orang kafir sebagai pimpinan mereka, ini
dapat terjadi karena ketidak tahuan kita tentang pemilihan pemimpin yang
pantas. Padahal dalam qur’an sudah dijelaskan tentang pemimpin..... saat ini
muslim dianggap sepele, bahkan kafir laknatullah itu dengan lantang mengatakan
Al-Maidah : 51 berbohong. Kafir ini seharusnya dihukum mati tapi penegak hukum
dinegeri ini juga kurang paham tentang hukum Islam. Maka hari ini tampilah
ulama sebagai pendobrak, penyadar masyarakat untuk tegas dalam aqidah dan
syariat. Saat ini adalah sudah waktunya Islam kembali bangkit meminpin dunia
menjadi hukum dan sistem yang harus dipatuhi. Hukum Islam adalah tuntunan dari
Allah maka Islam lah yang paling benar dan paling manusiawi hukumnya, tidak
pantas hukum yang dibuat manusia lebih dijunjung dibanding hukum Allah. Jika
Islam tidak bisa tegak dengan cara yang lembut maka jihad fisabilillah jalannya
biar Allah sebagai pelindung.
Aku hanya ingin sampaikan ini wahai mujahid QS. AL_MAIDAH : 44 (Sesungguhnya
Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang
menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh
nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan
pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab
Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut
kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar
ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan
menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang
kafir.)
“Keadilan
di negeri gemah ripah loh jinawi sudah berpulang, maka negerinya para ulama
harus tetap berjaya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar