demasatria.blogspot.co.id

Rabu, 04 Oktober 2017

Bobrokisasi muda-mudi (Kajian Mahasiswa)



Bobrokisasi muda-mudi
(Kajian Mahasiswa) 
Oleh Dema Satria AP
Rakyat UIN Raden Intan
 

Akan banyak persepsi yang hadir ketika mulai membaca judul tulisan di atas.  Keingintahuan dan koreksi adalah efek samping yang akan timbul ketika melihat sesuatu yang baru. Judul opini yang terpampang diatas mungkin mengundang mata para akademisi, tapi kesampingkanlah itu karena kalimat yang kami maksud adalah “rusaknya moral pemuda dan pemudi negeri saat ini”.

Ciri bagi sebuah ras dan keturunan adalah kesamaan bentuk fisik yang ada pada masyarakatnya. Ciri bagi sebuah kemajuan adalah tekhnologi yang membantu mempermudah urusan manusia. Ciri bagi sebuah peradaban adalah moral yang berlaku dan dianggap biasa di dalam sekumpulan manusia. ciri kemajuan dan peradaban sebuah negeri adalah pemuda-pemudinya, dan sample pemuda-pemudi negeri ini adalah mahasiswa-mahasiswi karena merekalah yang paling terpelajar.

Dinegeri ini kesamaan warna kulit, bentuk tubuh dan hidung  adalah hal lumrah karena diturunkan memang sesempurna itu dan tak usah kita fikirkan.  Tekhnologi yang berkembang di negeri tercinta ini barulah menjadi perbincanagan yang menarik namun, ada satu hal yang lebih menarik untuk dibahas yaitu moralitas anak bangsa yang tidak sesuai dengan tujuan ia di ciptakan dalam ras ini dan negeri timur ini.

Perempuan berdua dengan laki-laki keluar rumah tanpa ada mahram yang menemani bahkan sampai tengah malam itu lumrah saat ini. Perempuan umur 17 tahun keluar rumah dengan menggunakan celana dan baju adiknya lumrah saat ini.  Anak gadis dinasehati ibundanya lalu membangkang dan marah marah itu lumrah. Laki-laki keluar rumah bersama teman-temanya hanya untuk gitaran, mabuk, jerit sana jerit sini, rokok disaku kanan rokok di saku kiri, gadis muda dalam pelukan di pinggir jalan menjadi lumrah pula saat ini. Apakah mahasiswa sama seperti ini? Jika sama maka harapan bangkitnya sebuah peradaban telah “bobrok”.

Kita mahasiswa di takdirkan berpola fikir lebih maju, di lahirkan dalam Islam di tanah orang timur  hidup di alam yang subur, kita dimanjakan oleh tuhan. Lalu ketika hal tercela di atas masih kita lakukan sebagai mahasiswa maka moral kita telah “bobrok” kita sudah jauh dari Islam dan cara orang timur itu sendiri. Lalu siapakah saat ini yang kita jadikan panutan? Orang eropa, amerika? Mereka muslim? Mereka orang timur?. Kau beralasan karena tekhnologi mereka maju dan fisik indah mereka, sudah itu saja.

Pelajarilah tekhnologinya tetapi tidak kelakuan tercelanya. Jangan belajar jauh dulu kalau moral saja belum kau pelajari. Bagaimana mungkin kau beli sepeda sementara kau belum punya rumah, dahulukan kebutuhan primer lalu menyusul kebutuhan yang lain. Wahai mahasiswa bukan kah indah jika malam tiba engkau mengaji, belajar dan tidur tanpa “keluyuran”. Wahai mahasiswa bukan kah indah ketika engkau bergaul dengan lawan jenis seperlunya hanya sebatas belajar saja dan jadikan lah ini cara paling romantis menjaga “dia”. Wahai mahasiswa bukan kah indah ketika engkau berdiskusi tentang cara mengembalikan kemajuan moral anak bangsa tanpa harus berdiskusi untuk menjatuhkan kelompok lain. Wahai mahasiswa bukan kah akan sangat indah ketika engkau menjadi wisudawan wisudawati dengan spesialisasi masing-masing ditambah ilmu agama yang tinggi.

Tapi apalah daya semua sudah biasa. Jika hari ini tidak engkau ubah pola berfikirmu maka dizaman anakmu esok akan lebih “bobrok” kisah mentalnya, namun ketika hari ini telah engkau azamkan dihatimu bahwa kau akan berubah maka saat ini kamu seribu kali telah melangkah lebih cepat kepada  kemajuan peradaban. Dan setelah niat baik itu, maka berkumpulah kamu dengan orang-orang yang sholeh yang punya kemauan menjadi lebih baik. Mari kita eratkan persaudaraan kita untuk kemajuan peradaban Indonesia.

Rabu, 27 September 2017

Berubah atau tertinggal



Berubah atau tertinggal


Oleh : Dema Satria Abdi Persada

          Senja pulang kehadapan ku membawa cerita yang sama bagi ku.  Hari ini ku lalui masih dengan canda tawa riang bersama teman-teman ku di tempat biasa kami bergurau, Hingga petang menjemputku lagi mengajak aku pulang.  Aku adalah seorang mahasiswa yang hanya fokus dengan kuliah ku di kampus dan aku bangga pada diri ku serta teman-teman ku walau kami biasa saja.

          Namun entah kenapa semua mulai terasa membosankan, di tempat duduk ku ini mulai aku renungkan apa jadinya diri ku kedepan jika aku masih seperti ini, kegiatan ku saat ini hanya membawakan kesenangan ketika aku tidak sendiri namun saat aku sendiri maka jelas kurasakan sempit,sesak,sepi menyiksa diri.

          Semakin lama waktu kemari semakin aku tak dapat rasakan indahnya canda kami lagi karena hati dan fikiran ku telah setuju bahwa kegiatan ku adalah sia-sia, aku hambur-hamburkan waktu ku tanpa bertambah ilmu dalam otaku, aku lemparkan tawa ku sekeras mungkin tanpa tau artinya itu, aku tak mampu lagi menyembunyikan deritaku, aku harus jujur pada diriku bahwa aku pasti akan menjadi luar biasa, karena menyembunyikan kesepian, derita, dan jerit jiwa di keremaian begitu menguras tenaga hingga keringat kujatuhkan sia-sia.




          Saat ini sedang kufikirkan bagaimana merubah itu, apakah aku harus membaca buku? apakah aku harus berorganisasi? apakah aku harus menyendiri? ataukah aku luapkan semua yang kuinginkan saat ini agar terbang tinggi sampai ke pangkuan tuhan kemudian menangis dan memohon agar dipanjangkan umurku serta diberikan keberkahan, supaya aku dapat mengganti umurku yang terbuang dahulu dengan ilmu.

          Aku baru tahu bahwa kelakuanku yang hanya mengedepankan kesenangan adalah sebuah pemikiran kekanak-kanakan. Setidaknya saat aku sadar akan terjalnya jalan dimasa depan dan menyadari arti sebuah pemikiran, maka artinya aku mulai berfikir dewasa.  Langkah pertama yang aku ambil adalah meningkatkan kapasitas entah dengan cara apapun itu, banyak yang berkata langkah konkrit meningkatkan kapasitas adalah buku. Mungkin mereka benar tetapi aku pilih jalan ku sendiri dan saat ini aku mulai dari memperbaiki shalatku. 

          Entah bagaimana menjelaskanya secara ilmiah tetapi shalat bagiku adalah cara terbaik membagun diri. Kini telah ku robohkan tembok lusuh yang dulu, lalu kubangun lagi pondasi dengan batu yang baru, kuat dan menguatkan. Kini mulai kubangun tenda kecil bersama orang-orang shaleh di atas pondasi itu, aku telah berorganisasi.  kini saat teman-teman lama ku terlelap di sepertiga malam aku bangun dan terjaga lalu mulai kupanjatkan do’a dalam kesunyian dan kesendirian. Sungguh aku ingin shaleh seperti kawan baru ku. kini aku tahu bagaimana rasanya menangis di pangkuan tuhan ku dan aku mulai tahu betapa besar cintaNya untuku.

          Mungkin dahulu aku berdosa, tetapi pernah ada seorang yang dahulunya pendosa namun kemudian disandingkan makam nya bersama rasul, dialah umar.  Setidaknya ini menyampaikan pesan kepada ku bahwa aku berhak menjadi baik dan disandingkan pula dengan rasul di surga, aku sangat berharap itulah masa depan ku dan saat ini telah kutancapkan dalam hatiku bahwa hidupku tak akan sia-sia lagi.

Dimana saya (MAHASISWA PEMUDA)



Dimana saya (MAHASISWA PEMUDA)
Oleh : Dema Satria Abdi Persada


Tidak tau harus aku mulai ini dari mana karena sungguh sore ini amat membingungkan.  Aku melihat keluar tembok kosan ini tidak kutemukan apapun, semua biasa saja semua sehat saja.  Namun tadi sebelum sore ini tiba.. teman-teman ku berucap bahwa lingkungan, tempat tinggal, kampus, negeriku dan dunia ini sedang sakit.

 

Aku ingat semalam ketika aku berselancar memang kutemukan beberapa masalah. Seingat ku ada foto-foto orang-orang rohingya, ada foto jendral TNI, ada video pendek pembantaian orang palestina dan memang banyak yang seperti ini, juga ada cuplikan film pembuangan tentara RI zaman dulu ke lubang. Tapi itu kan masalah orang lain, masalah Negara lain kenapa aku harus terlalu merisaukan itu seperti kawan-kawan ku tadi? Mereka sungguh aneh terlalu sibuk dengan urusan Negara lain, Tapi aku berbeda.. aku nasionalis. Biar aku urus Indonesia saja..

 

Bicara soal Indonesia semalam aku temukan kisah sejarah yang tumpah di beranda instagram ku.  Banyak berita tentang PKI dan pro kontra tentang itu. Ini membuat ku sedikit ingin tahu karena ini sejarah Indonesia. Tetapi biarlah mungkin itu hanya lagi trend.

 

Namun entah kenapa aku ingat kalimat indah yang pernah terucap oleh presiden turkey itu, dia bilang “ dimana ada suara adzan di situlah negeri ku”. Kalimat ini membuat hatiku ingin berkata “ keren”. Tapi kalimat ini pula yang kemudian mambuat aku sadar apa arti nasionalis sesungguhnya. 

 

Nasionalis yang sebenarnya adalah menganggap bahwa seluruh negeri yang ada di muka bumi ini adalah negeri ku, artinya palestin negeriku, Myanmar negeriku, syuriah negeriku, turkey negeriku semua tugasku untuk menjaganya. Pemahamanku sekali lagi membuatku ingin berkata “akulah manusia pelindung dunia”.

 

Semakin aku faham arti nasionalis semakin dapat aku rasakan betapa negeriku sedang sakit keras, palestin dibantai puluhan tahun, suriah hancur berantakan, iran pula irak pun begitu, saudara rohingya ku di panggang seperti kambing guling, orang berjenggot di sebut teroris, ustad dan syeikh di ciduk, hafizh qur’an meningal ramai-ramai.  Dan Indonesia? Ah entahlah…

 

Indonesia negeri kolam susu tongkat kayu dan batu jadi tanaman, negeri gemah ripah loh jinawi dulu. Pernah swasembada, pernah jadi guru Negara-negara asia tenggara, macan asia tapi itu dulu, dulu sekali. Negeri dengan ribuan pulaunya, ribuan pula tetes darah tumpah karenanya, ribuan sejarah terukir diatasnya. Ingat NICA? ingat jepang? ingat belanda? Yang paling mudah di ingat adalah peristiwa penghianatan G 30 S PKI tonton film nya.

 

Karena problematika ini aku ingin seperti “ mu’tasim” yang mengumandangkan perang enam bulan hanya untuk membebaskan satu muslimah yang di culik. Aku ingin seperti “ zubair ibn awwam “ body guard rasul yang menembus  250.000 pasukan musuh hanya berdua dengan kudanya. Tapi mungkin kah?.... kuota ku saja kuhabiskan entah untuk apa..

 

Sungguh aku takut aku munafik, mungkin aku bukan “kapitalis”, mungkin aku juga bukan “ sosialis”, tetapi aku takut aku “HEDONIS” yang tak peduli siapapun. 

 

Sungguh seorang pemuda dan mahasiswa harus peka dan peduli terhadap masalah di negerinya..

Sabtu, 22 April 2017

PUISI SEPI


BERDUA DENGAN SEPI


Terik membakar hati
Lelah memandang  langit disana
Warna-warna yang tak jelas
Mengganggu mata ini
Masih aku bersyukur
Aku tidak sendiri
Berdua dengan sepi

Aku berteriak keras didalam hati
Mungkin tak terdengar
Atau terdengar sia-sia
Hanya aku yang mengerti
Suara keras ini
Berdua dengan sepi

Gelap tak terlihat
Padahal mentari tepat diatas kepala
Hanya terdiam aku
Mencari-cari
Apa yang sedang aku pikirkan
Atau hanya hayalan aku
Dibawah sang mentari
Berdua dengan sepi

Aku masih disini
Masih mencari-cari
Mencari-cari
Mengapa aku disini
Mengapa aku tidak pergi?
Masih bersama mimpi ini
Dan mimpi ini bersama bintang
Aku ingin pergi bersama mimpi
Menggaulinya di atas bintang
Namun aku masih disini
Berdua dengan sepi

Apakah mungkin
Berdua dengan sepi
Membawa aku terbang tinggi menggapai bintang
Atau mungkin sepi
Membawakan aku bintang
Dibawah matahari?
Tidak mungkin!
Tidak mungkin!
Mungkin aku hanya bermimpi
Dibawah matahari
Berdua dengan sepi


Jumat, 21 April 2017

MAHASISWA


"jati diri mahasiswa adalah…?”

Beranda hidup mahasiswa akan senantiasa dipenuhi kata dan kalimat anonim yang terlihat indah, akibat simpati kepada kalimat yang sering kita sebut “kata-kata mutiara” itu!.. tak jarang kita untuk “like”, “share”, bahkan “search” ketika sedang ingin unggah “setatus”. Benarkah?

Bagaimana dengan Al-Qur’an? Bagaimana dengan Al-Hadits? Kau simpan kah di “gadget” mu? Kau baca kah? Kau pahami kah? Berapa lama kau baca?.. padahal kata-kata dengan mutiara terbaik adalah Al-Qur’an.., padahal tingkah terbaik adalah Al-Hadits, kau baca itu.. kau tak perlu “search”, kau tak perlu “like” kalimat anonym, kau dapat pahala membacanya, pahala lebih jika memahaminya, lebih lagi jika mengamalkanya, dan lebih lagi ketika kau ajarkan itu kepada istrimu nanti, anakmu nanti, atau untuk membimbing orang tua mu.

Tidak salah “kata-kata mutiara” itu kamu baca tapi, jika ia menjadikan kamu lalai!!! Sadarlah.. kamu itu mahasiswa, kamu itu intelektual muda, kamu pintar, kamu bisa hitung mana yang lebih menguntungkan..
Hidup tidak sekali.. karena setelah ini pun kita hidup lagi, hijrahlah.. hijrahlah.. dan istiqamahlah

Oleh Dema Satria Abdi Persada
  Dari UIN RADEN INTAN LAMPUNG