demasatria.blogspot.co.id

Rabu, 27 September 2017

Dimana saya (MAHASISWA PEMUDA)



Dimana saya (MAHASISWA PEMUDA)
Oleh : Dema Satria Abdi Persada


Tidak tau harus aku mulai ini dari mana karena sungguh sore ini amat membingungkan.  Aku melihat keluar tembok kosan ini tidak kutemukan apapun, semua biasa saja semua sehat saja.  Namun tadi sebelum sore ini tiba.. teman-teman ku berucap bahwa lingkungan, tempat tinggal, kampus, negeriku dan dunia ini sedang sakit.

 

Aku ingat semalam ketika aku berselancar memang kutemukan beberapa masalah. Seingat ku ada foto-foto orang-orang rohingya, ada foto jendral TNI, ada video pendek pembantaian orang palestina dan memang banyak yang seperti ini, juga ada cuplikan film pembuangan tentara RI zaman dulu ke lubang. Tapi itu kan masalah orang lain, masalah Negara lain kenapa aku harus terlalu merisaukan itu seperti kawan-kawan ku tadi? Mereka sungguh aneh terlalu sibuk dengan urusan Negara lain, Tapi aku berbeda.. aku nasionalis. Biar aku urus Indonesia saja..

 

Bicara soal Indonesia semalam aku temukan kisah sejarah yang tumpah di beranda instagram ku.  Banyak berita tentang PKI dan pro kontra tentang itu. Ini membuat ku sedikit ingin tahu karena ini sejarah Indonesia. Tetapi biarlah mungkin itu hanya lagi trend.

 

Namun entah kenapa aku ingat kalimat indah yang pernah terucap oleh presiden turkey itu, dia bilang “ dimana ada suara adzan di situlah negeri ku”. Kalimat ini membuat hatiku ingin berkata “ keren”. Tapi kalimat ini pula yang kemudian mambuat aku sadar apa arti nasionalis sesungguhnya. 

 

Nasionalis yang sebenarnya adalah menganggap bahwa seluruh negeri yang ada di muka bumi ini adalah negeri ku, artinya palestin negeriku, Myanmar negeriku, syuriah negeriku, turkey negeriku semua tugasku untuk menjaganya. Pemahamanku sekali lagi membuatku ingin berkata “akulah manusia pelindung dunia”.

 

Semakin aku faham arti nasionalis semakin dapat aku rasakan betapa negeriku sedang sakit keras, palestin dibantai puluhan tahun, suriah hancur berantakan, iran pula irak pun begitu, saudara rohingya ku di panggang seperti kambing guling, orang berjenggot di sebut teroris, ustad dan syeikh di ciduk, hafizh qur’an meningal ramai-ramai.  Dan Indonesia? Ah entahlah…

 

Indonesia negeri kolam susu tongkat kayu dan batu jadi tanaman, negeri gemah ripah loh jinawi dulu. Pernah swasembada, pernah jadi guru Negara-negara asia tenggara, macan asia tapi itu dulu, dulu sekali. Negeri dengan ribuan pulaunya, ribuan pula tetes darah tumpah karenanya, ribuan sejarah terukir diatasnya. Ingat NICA? ingat jepang? ingat belanda? Yang paling mudah di ingat adalah peristiwa penghianatan G 30 S PKI tonton film nya.

 

Karena problematika ini aku ingin seperti “ mu’tasim” yang mengumandangkan perang enam bulan hanya untuk membebaskan satu muslimah yang di culik. Aku ingin seperti “ zubair ibn awwam “ body guard rasul yang menembus  250.000 pasukan musuh hanya berdua dengan kudanya. Tapi mungkin kah?.... kuota ku saja kuhabiskan entah untuk apa..

 

Sungguh aku takut aku munafik, mungkin aku bukan “kapitalis”, mungkin aku juga bukan “ sosialis”, tetapi aku takut aku “HEDONIS” yang tak peduli siapapun. 

 

Sungguh seorang pemuda dan mahasiswa harus peka dan peduli terhadap masalah di negerinya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar