demasatria.blogspot.co.id

Rabu, 27 September 2017

Berubah atau tertinggal



Berubah atau tertinggal


Oleh : Dema Satria Abdi Persada

          Senja pulang kehadapan ku membawa cerita yang sama bagi ku.  Hari ini ku lalui masih dengan canda tawa riang bersama teman-teman ku di tempat biasa kami bergurau, Hingga petang menjemputku lagi mengajak aku pulang.  Aku adalah seorang mahasiswa yang hanya fokus dengan kuliah ku di kampus dan aku bangga pada diri ku serta teman-teman ku walau kami biasa saja.

          Namun entah kenapa semua mulai terasa membosankan, di tempat duduk ku ini mulai aku renungkan apa jadinya diri ku kedepan jika aku masih seperti ini, kegiatan ku saat ini hanya membawakan kesenangan ketika aku tidak sendiri namun saat aku sendiri maka jelas kurasakan sempit,sesak,sepi menyiksa diri.

          Semakin lama waktu kemari semakin aku tak dapat rasakan indahnya canda kami lagi karena hati dan fikiran ku telah setuju bahwa kegiatan ku adalah sia-sia, aku hambur-hamburkan waktu ku tanpa bertambah ilmu dalam otaku, aku lemparkan tawa ku sekeras mungkin tanpa tau artinya itu, aku tak mampu lagi menyembunyikan deritaku, aku harus jujur pada diriku bahwa aku pasti akan menjadi luar biasa, karena menyembunyikan kesepian, derita, dan jerit jiwa di keremaian begitu menguras tenaga hingga keringat kujatuhkan sia-sia.




          Saat ini sedang kufikirkan bagaimana merubah itu, apakah aku harus membaca buku? apakah aku harus berorganisasi? apakah aku harus menyendiri? ataukah aku luapkan semua yang kuinginkan saat ini agar terbang tinggi sampai ke pangkuan tuhan kemudian menangis dan memohon agar dipanjangkan umurku serta diberikan keberkahan, supaya aku dapat mengganti umurku yang terbuang dahulu dengan ilmu.

          Aku baru tahu bahwa kelakuanku yang hanya mengedepankan kesenangan adalah sebuah pemikiran kekanak-kanakan. Setidaknya saat aku sadar akan terjalnya jalan dimasa depan dan menyadari arti sebuah pemikiran, maka artinya aku mulai berfikir dewasa.  Langkah pertama yang aku ambil adalah meningkatkan kapasitas entah dengan cara apapun itu, banyak yang berkata langkah konkrit meningkatkan kapasitas adalah buku. Mungkin mereka benar tetapi aku pilih jalan ku sendiri dan saat ini aku mulai dari memperbaiki shalatku. 

          Entah bagaimana menjelaskanya secara ilmiah tetapi shalat bagiku adalah cara terbaik membagun diri. Kini telah ku robohkan tembok lusuh yang dulu, lalu kubangun lagi pondasi dengan batu yang baru, kuat dan menguatkan. Kini mulai kubangun tenda kecil bersama orang-orang shaleh di atas pondasi itu, aku telah berorganisasi.  kini saat teman-teman lama ku terlelap di sepertiga malam aku bangun dan terjaga lalu mulai kupanjatkan do’a dalam kesunyian dan kesendirian. Sungguh aku ingin shaleh seperti kawan baru ku. kini aku tahu bagaimana rasanya menangis di pangkuan tuhan ku dan aku mulai tahu betapa besar cintaNya untuku.

          Mungkin dahulu aku berdosa, tetapi pernah ada seorang yang dahulunya pendosa namun kemudian disandingkan makam nya bersama rasul, dialah umar.  Setidaknya ini menyampaikan pesan kepada ku bahwa aku berhak menjadi baik dan disandingkan pula dengan rasul di surga, aku sangat berharap itulah masa depan ku dan saat ini telah kutancapkan dalam hatiku bahwa hidupku tak akan sia-sia lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar