Berubah atau tertinggal
Oleh : Dema Satria Abdi Persada
Senja pulang
kehadapan ku membawa cerita yang sama bagi ku.
Hari ini ku lalui masih dengan canda tawa riang bersama teman-teman ku di
tempat biasa kami bergurau, Hingga petang menjemputku lagi mengajak aku
pulang. Aku adalah seorang mahasiswa
yang hanya fokus dengan kuliah ku di kampus dan aku bangga pada diri ku serta
teman-teman ku walau kami biasa saja.
Namun entah kenapa
semua mulai terasa membosankan, di tempat duduk ku ini mulai aku renungkan apa
jadinya diri ku kedepan jika aku masih seperti ini, kegiatan ku saat ini hanya
membawakan kesenangan ketika aku tidak sendiri namun saat aku sendiri maka
jelas kurasakan sempit,sesak,sepi menyiksa diri.
Semakin lama waktu
kemari semakin aku tak dapat rasakan indahnya canda kami lagi karena hati dan
fikiran ku telah setuju bahwa kegiatan ku adalah sia-sia, aku hambur-hamburkan
waktu ku tanpa bertambah ilmu dalam otaku, aku lemparkan tawa ku sekeras
mungkin tanpa tau artinya itu, aku tak mampu lagi menyembunyikan deritaku, aku
harus jujur pada diriku bahwa aku pasti akan menjadi luar biasa, karena
menyembunyikan kesepian, derita, dan jerit jiwa di keremaian begitu menguras
tenaga hingga keringat kujatuhkan sia-sia.
Saat ini sedang
kufikirkan bagaimana merubah itu, apakah aku harus membaca buku? apakah aku
harus berorganisasi? apakah aku harus menyendiri? ataukah aku luapkan semua
yang kuinginkan saat ini agar terbang tinggi sampai ke pangkuan tuhan kemudian
menangis dan memohon agar dipanjangkan umurku serta diberikan keberkahan,
supaya aku dapat mengganti umurku yang terbuang dahulu dengan ilmu.
Aku baru tahu bahwa
kelakuanku yang hanya mengedepankan kesenangan adalah sebuah pemikiran
kekanak-kanakan. Setidaknya saat aku sadar akan terjalnya jalan dimasa depan
dan menyadari arti sebuah pemikiran, maka artinya aku mulai berfikir
dewasa. Langkah pertama yang aku ambil
adalah meningkatkan kapasitas entah dengan cara apapun itu, banyak yang berkata
langkah konkrit meningkatkan kapasitas adalah buku. Mungkin mereka benar tetapi
aku pilih jalan ku sendiri dan saat ini aku mulai dari memperbaiki
shalatku.
Entah bagaimana
menjelaskanya secara ilmiah tetapi shalat bagiku adalah cara terbaik membagun
diri. Kini telah ku robohkan tembok lusuh yang dulu, lalu kubangun lagi pondasi
dengan batu yang baru, kuat dan menguatkan. Kini mulai kubangun tenda kecil
bersama orang-orang shaleh di atas pondasi itu, aku telah berorganisasi. kini saat teman-teman lama ku terlelap di
sepertiga malam aku bangun dan terjaga lalu mulai kupanjatkan do’a dalam
kesunyian dan kesendirian. Sungguh aku ingin shaleh seperti kawan baru ku. kini
aku tahu bagaimana rasanya menangis di pangkuan tuhan ku dan aku mulai tahu
betapa besar cintaNya untuku.
Mungkin dahulu aku
berdosa, tetapi pernah ada seorang yang dahulunya pendosa namun kemudian
disandingkan makam nya bersama rasul, dialah umar. Setidaknya ini menyampaikan pesan kepada ku
bahwa aku berhak menjadi baik dan disandingkan pula dengan rasul di surga, aku
sangat berharap itulah masa depan ku dan saat ini telah kutancapkan dalam
hatiku bahwa hidupku tak akan sia-sia lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar